Ilmu Budaya Dasar
Pengertian
Ilmu Budaya Dasar
Pada umumnya Ilmu Budaya Dasar
adalah suatu ilmu yang mempelajari sebuah dasar kebudayaan
Ilmu Budaya Dasar (IBD) adalah salah
satu komponen dari sejumlah matakuliah Dasar Umum (MKDU), sebagai matakuliah
wajib yang menjadi kesatuan dengan matakuliah lain di Perguruan Tinggi.
Secara khusus MKDU bertujaun untuk menghasilkan warga negera
sarjana yang berkualifikasi sebagai berikut:
a. Berjiwa Pancasila sehingga segala keputusan serta
tindakannya mencerminkan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan memiliki
intergritas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan kepentingan nasional dan
kemanusiaan scbagai sarjana Indonesia.
b. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan
bertindak sesuai dengan ajaran agamanya, dan memiliki tenggang rasa terhadap
pemeluk agama lain.
c. Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral di
dalam menyikapi permasalah kehidupan baik sosial, ekonomi, politik, kebudayaan,
maupun pertahanan keamanan.
d. Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan
bcrmasyarakat dan secara bcrsama-sama mampu berperan serta meningkatkan
kualitas-nya, maupun lingkungan alamiah dan secara bersama-sama berperan serta
di dalam pelestariannya.
Secara
sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat membcrikan pengetahuan
dasar dan pengcrtian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk
mengkaji masalah-masalah dan kebudayaan.
Istilah
IBD dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah Basic Humanities yang
berasal dari istilah bahasa Inggris “The Humanities’. Adapun istilah Humanities
itu sendiri berasal dari bahasa Latin Humanus yang bisa diartikan manusiawi,
berbudaya dan halus (fefined). Dengan mempelajari The Humanities diandaikan
seseorang ‘akan bisa mcnjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus.
Secara demikian bisa dikatakan bahwa The Humanities berkaitan dengan masalah
nilai-nilai, yaitu nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia
berbudaya. Agar. manusia bisa menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu
yaitu The Humanities di samping tidak mehinggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai
manusia itu sendiri. Kendatipun demikian, Ilmu Budaya Dasar (atau Basic
Humanities) sebagai satu matakuliah tidaklah identik dengan The Humanities
(yang disalin ke dalam bahasa Indonesia menjadi: Pengetahuan Budaya).
Pengetahuan
Budaya (The Humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian
cabang ilmu (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian ini pun dapat dibagi-bagi
lagi ke dalam berbagai bidang kahlian lain, seperti seni sastra, seni tari,
seni musik, seni rupa dan lain-lain. Sedang Ilmu Budaya Dasar (Basic
Humanities) sebagaimana dikemukakan di atas, adalah usaha yang diharapkan dapat
memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang
dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Masalah-masalah
ini dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (The Humanities), baik
secara gabungan berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya ataupun dengan
menggunakan masing-masing keahlian di dalam pengetahuan budaya (The
Humanities). Dengan poerkataan lain, Ilmu Budaya Dasar menggunakan
pengertian-pengertian yang berasa! dari berbagai bidang pengetahuan budaya
untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan dalam mengkaji
masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Dengan perkataan lain dapatlah dikatakan bahwa setelah
mendapat matakuliah IBD ini, mahasiswa diharapkan memperlihatkan:
a. Minat dan kebiasaan menyelidiki apa-apa yang terjadi di
sekitarnya dan diluar lingkungannya, menelaah apa yang dikcrjakan sendiri dan
mengapa.
b. Kesadaran akan pola-pola nilai yang dianutnya serta
bagaimana hubungan nilai-nilai ini dengan cara hidupnya sehari-hari.
c. Keberanian moral untuk mempertahankan nilai-nilai
yang dirasakannya sudah dapat diterimanya dengan penuh tanggung jawab dan
scbaliknya mcnolak nilai-nilai yang tidak dapat dibenarkan.
Perlunya
mempelajari ilmu budaya dasar
Perlunya mempelajari
ilmu budaya dasar adalah :
1. Mengenal perilaku lebih dalam dirinya sendiri maupun orang lain yang sebelumnya lebih dikenal luarnya saja.
1. Mengenal perilaku lebih dalam dirinya sendiri maupun orang lain yang sebelumnya lebih dikenal luarnya saja.
Dengan memahami
karakter seseorang lebih dalam akan membuat seseorang menjadi tahu sifat yang
ada di dalamnya itu, dan bukan luarnya saja. Karena memahami karakter seseorang
itu jangan hanya dari luar saja, akan tetapi dari dalam juga. Sehingga dalam
bergaulpun akan luwes.
2.
Sebagai bekal penting untuk pergaulan hidup.
Manusia
merupakan makhluk individu, yang berarti manusia tidak bisa hidup sendiri dan
selalu membutuhkan bantuan orang lain.
3.
Perlu bersikap luwes dalam pergaulan setelah mendalami jiwa dan perasaan manusia
serta mau tahu perilaku manusia.
Dalam bergaul
haruslah menjaga sikap dan sifat kita agar terjalinnya hubungan yang
harmonis.
4.
Tanggap terhadap hasil budaya manusia secara lebih mendalam sehingga lebih peka
terhadap masalah-masalah pemikiran perasaan serta perilaku manusia dan
ketentuan yang diciptakannya.
5.
Mampu menghargai budaya yang ada di sekitarnya dan ikut mengembangkan budaya
bangsa serta melestarikan budaya nenek moyang leluhur kita yang luhur nilainya.
Indonesia,
sebagai bangsa yang akan kaya budaya kita sebagai masyarakatnya patut bangga
akan budaya yang kita miliki. Kita dapat memperkenalkan budaya kita pada
masyarakat luar, sehingga mereka mengetahui akan budaya kita, dan hubungan kita
dengan masyarakat luar semkain erat.
6.
Sebagai calon pemimpin bangsa serta ahli dalam disiplin ilmu tidak jatuh
kedalam sifat-sifat kedaerahan dan kekotaan sebagai disiplin ilmu yang kaku.
Sebagai pempimpin bangsa, harusnya tercipta sifat jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Dia harus bertanggung jawab atas janji-janjinya sebagai pemimpin. Dan selalu melihat keadaan rakyatnya, baik kalangan atas maupun bawah.
Sebagai pempimpin bangsa, harusnya tercipta sifat jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Dia harus bertanggung jawab atas janji-janjinya sebagai pemimpin. Dan selalu melihat keadaan rakyatnya, baik kalangan atas maupun bawah.
7.
Dapat menciptakan sifat kebudayaan yang universal dan dinamis.
8.
Dapat mengenal lebih dalam tentang budaya yang terdapat di Negara yang kita
cintai dengan melihat dari kesenian, bermacam-macam suku, adat istiadat,
bahasa, budaya daerah dan budaya nasional.
9.
Mampu menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia dan kelompok.
Manusia merupakan mkhluk sosial dimana mereka tidak dapat hidup sendiri dan pasti akan membutuhkan bantuan orang lain. Didalam hidup bermasyarakat/berkelompok harus adanya saling mengenal memahami satu sama lain, bekerjasama, bergeotong royong, sehingga menciptakan hubungan yang harmonis.
Manusia merupakan mkhluk sosial dimana mereka tidak dapat hidup sendiri dan pasti akan membutuhkan bantuan orang lain. Didalam hidup bermasyarakat/berkelompok harus adanya saling mengenal memahami satu sama lain, bekerjasama, bergeotong royong, sehingga menciptakan hubungan yang harmonis.
10.
Dapat mengenal lebih jauh tentang unsure-unsur budaya, seperti kepercayaan,
kekerabatan, mata pencaharian, ilmu pengetahuan, bahasa, seni dan teknologi.
Tujuan Ilmu Budaya Dasar
Diharapkan dapat memberikan
pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan
untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Ilmu Budaya Dasar
semata-mata sebagai salah satu usaha mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan
cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap
nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun
yang menyangkut dirinya sendiri.
Untuk bisa menjangkau tujuan
tersebut Ilmu Budaya Dasar Diharapkan dapat:
- Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya.
- Memberi kesempatan pada mahasiwa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
- Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Para akademisi diharapkan akan lebih lancar dalam berkomunikasi.
Sebagaimana dikemukakan di atas,
penyajian Ilmu Budaya Dasar (IBD) tidak lain merupakan usaha yang diharapkan
dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep
yang dikem-bftngkan untuk mengkaji msalah-masalah manusia dan kebudayaan,
Dengan demikian jelas bahwa matakuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik
seorang pakar dalam salah satu bidang keahlian (disiplin) yang termasuk. dalam
pengetahuan budaya, akan tetapi Ilmu Budaya Dasar semata-mata sebagai salah
satu usaha mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan
pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang
menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya
sendiri.
Dan
bahwa dalam masyarakat yang berkabung semakin Cepat dan rumit ini, mahasiswa
harus mcngalami pergeseran nilai-nilai yang , mungkin sekali dapat membuatnya
masa bodoh atau putus asa, suatu sikap yang tidak selayaknya dimiliki oleh
seorang terpelajar. Bagaimanapun juga, mahasiswa adalah orang-orang muda yang
sedang mempelajari cara memberikan tanggapan dan penilaian terhadap apa saja
yang terjadi atas dirinya sendiri dan masyarakat sekitarnya. Sudah barang tentu
ia perlu dibimbing untuk menemukan cara terbaik yang sesuai dengan dirinya
sendiri tanpa harus mengorbankan masyarakat dan alam sekitarnya. Secara tidak
langsung Budaya Dasar akan membantu mereka untuk mencapai tujuan-tujuan
tersebut.
Berpijak
dari hal di atas, tujuan matakuliah Ilmu Budaya Dasar adalah untuk
mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran, khususnya berkenaan dengan
kebudayaan, agar daya tangkap, persepsi dan penalaran mengenai lingkungan
budaya mahasiswa dapat menjadi lebih halus. Untuk bidag menjangkau tujuan
tersebut di atas, diharapkan Ilmu Budaya Dasar dapat:
a.Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap
lingkungan budaya, sehingga mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
b.Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk dapat memperluas
pandangan mereka tcntang masalah kemanusiaan dan budaya, serta mengembangkan
daya kritis mercka tcrhadap persoalan-persoalan yang mcnyangkut kedua hal
tcrscbut.
c.Mcngusahakan agar mahasiswa sebagai caion pcmimpin bangsa
dan ncgara, serta ahli dalatn bidang disiplin masing-masing, tidak jatuh ke
dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotaan disiplin yang ketat. Usaha ini
tcrjadi karcna ruang lingkup pendidikan kita amat dan condong mem-buat manusia
spcsialis yang berpandangan kurang luas. Matakuliah ini berusaha menambah
kcmampuan mahasiswa untuk menanggapi nilai-nilai dan masalah dalam masyarakat
lingkungan mereka khususnya dan masalah seria nilai-nilai umumnya tanpa terlalu
terikat oleh disiplin mereka.
d.Mcngusahakan wahana komunikasi para akademisi, agar mercka
lebih mampu bcrdialog satu sama lain. Dengan mcmiliki satu bekal yang sama,
para akademisi diharapkan dapat lebih lancar berkomunikasi. Kalau cara
berkomunikasi ini selanjutnya akan lebih memperlancar pclaksanaan pembangunan
dalam bcrbagai bidang keahlian. Mcskipun spcsialisasi sangat penting, spcsialisasi
yang terlalu sempit akan membuat dunia scorang mahasiswa/sarjana menjadi
tcrlalu sempit. Masyarakat yang pcrcaya pada pentingnya modcrnisasi tidak akan
dapat memanfaat-kan sccara penuh sarjana-sarjana demikian, scbab proses
modcrnisasi mcmerlukan orang yang bcrpandangan luas.
Secara
umum tujuan IBD adalah Pembentukan dan pengembangan keperibadian serta
perluasan wawasan perhatian, pengetahuan dan pemikiran mengenai berbagai gejala
yang ada dan timbul dalam lingkungan, khususnya gejala-gejala berkenaan dengan
kebudayaan dan kemanusiaan, agar daya tanggap, persepsi dan penalaran berkenaan
dengan lingkungan budaya dapat diperluas. Jika diperinci, maka tujuan
pengajaran llmu Budaya Dasar itu adalah:
1.Lebih peka dan terbuka terhadap masalah kemanusiaan dan budaya,
scrta lebih bertanggung jawab terhadap masalah-masalah tersebut.
2.Mengusahakan kepekaan terhadap nilai-nilai lain untuk
lebih mudah menyesuaikan diri.
3.Menyadarkan mahasiswa terhadap nilai-nilai yang hidup
dalam masyarakat, hormat menghormati serta simpati pada nilai-nilai yang hidup
pada masyarakat.
4.Mengembangkan daya kritis tcrhadap pcrsoalan kemanusiaan
dan kebudayaan.
5.Memiliki latarbelakang pengetahuan yang cukup luas tentang
kebudayaan Indonesia.
6.Menimbulkan minat untuk mendalaminya.
7.Mcndukung dan mcngcmbangkan kebudayaan sendiri dengan
kreatif.
8.Tidak terjerumus kepada sifat kedaarahan dan pengkotakan
disiplin ilmu.
9.Menambahkan kemampuan mahasiswa untuk mcnanggapi masalah
nilai-nilai budaya dalam masyarakat Indonesia dan dunia tanpa terpikat oleh
disiplin mereka.
10.Mempunyai kesamaan bahan pembicaraan, tempat berpijak
mengenai masalah kemanusiaan dan kebudayaan.
11.Terjalin interaksi antara cendekiawan yang berbeda
keahlian agar lebih positif dan komunikatif.
12.Menjembatani para sarjana yang berbeda keahliannya dalam
bertugas menghadapi masalah kemanusiaan dan budaya.
13.Memperlancar pelaksanaan pembangunan dalam berbagai
bidang yang ditangani oleh berbagai cendekiawan.
14.Agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang
membangun.
15.Agar mampu memenuhi tuntutan dari Tri Dharma Perguruan
Tinggi, khususnya dharma pendidikan.
Perbedaan Antara Pengetahuan Budaya Dan Ilmu Budaya Dasar
Pengetahuan budaya yaitu sesuatu
yang mempengaruhi tingkat pengetahuan yang meliputi sistem ide,cara pandang
atau gagasan atau juga berupa kesimpulan yang muncul dalam pikiran kita tentang
budaya dasar yang kita pelajari.
Ilmu Budaya Dasar adalah ilmu yang
mempelajari dasar-dasar kebudayaan, seperti mencakup :
kesenian,bahasa,adat-istiadat,budaya daerah, budaya nasional.
Pokok bahasan yang akan dikembangkan
adalah :
- Manusia dengan cinta kasih
- Manusia dan keindahan
- Manusia dan penderitaan
- Manusia dan keadilan
- Manusia dan pandangan hidup
- Manusia dan tanggung jawab serta pengabdian
- Manusia dan kegelisahan
- Manusia dan harapan
Kedelapan pokok bahasan itu termasuk
dalam karya-karya yang tercakup dalam pengetahuan budaya. Perwujudan mengenai
cinta, misalnya, terdapat dalam karya sastra, tarian, musik, filsafat, lukisan,
patung dan sebagainya. Masing-masing pokok bahasan dapat didekati dengan baik
menggunakan cabang-cabang pengetahuan budaya secara sendiri-sendiri maupun
secara gabungan cabang-cabang tersebut. Pokok bahasan manusia dan cinta kasih
misalnya, dapat didekati dengan menggunakan karya seni sastra, atau filsafat
atau seni tari dan sebaginya. Disamping itu pokok bahasan manusia dan cinta
kasih juga dapat didekati dengan menggunakan gabungan karya seni sastra, karya
seni tari, atau filsafat dan sebagainya.
Konsepsi Budaya Dasar Dalam Seni
Rupa
HAKEKAT SENI RUPA.
Keutuhan
manusia sebagai pribadi dapat dimungkinkan melalui pemahaman, penghayatan dan
meresapkan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu karya seni rupa sebagai
salah satu bagian dari kebudayaan. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang
dianugerahi pikiran, perasaan dan kemauan secara naluriah memerlukan pranata
budaya untuk menyatakan rasa seninya, baik secara aktif dalam kegiatan kreatif,
maupun secara pasif dalam kegiatan apresiatif.
Dalam
kegiatan apresiatif, yaitu mengadakan pendekatan terhadap seni rupa
seolah-olah kita memasuki suatu alam rasa yang kasat mata. Seni rupa sebagai
karya seni yang nampak rupa seolah-olah hanya dapat dihayati dengan indra mata.
Maka itu kadang-kadang seni rupa itu disamakan dengan seni visual, yakni seni
yang aktifitasnya erat sangkut pautnya dengan visi indrawi (mata) Tetapi
sebenarnya seni rupa itu lebih dari yang hanya bersifat lahiriah semata, yakni
lebih dalam lagi dan meliputi pula visi bathiniah.
Seni
rupa sebagai karya yang kasat mata, perwujudannya itu adalah merupakan wadah
pembabaran idea yang bersifat bathiniah Dalam mengadakan pendekatan terhadap
seni rupa seluruh pancaindra kita, khususnya penglihatan, perabaan dan
perimbangan kita terlibat dengan asyiknya terhadap bentuk seni rupa itu yang
terdiri dari aneka warna, garis, bidang, tekstur dan sebagainya yang bersifat
lahiriah itu untuk seterusnya menguak alam kesadaran jiwa kita untuk lebih jauh
menghayati isi yang terbabar dalam karya seni rupa itu serta idea yang melatar
belakangi kehadirannya.
Maka
itu dalam mengadakan pendekatan terhadap karya seni rupa kita tidak cukup hanya
bersimpati terhadap karya seni rupa itu, tetapi lebih dari itu yaitu secara
empati (empathy). Empati berasal dari kata Yunani yang berarti Terasa di dalam,
sedangkan simpati yang juga berasal dari kata Yunani berarti merasa dengan.
Jadi dalam menghayati suatu karya seni secara empati berarti kita menempatkan
diri kita ke dalam karya seni itu.
“Seorang
pribadi yang berempati orang ini mencoba melihat dunia dari makhluk manusia
lain, melalui mata dari orang lain. Empati memerlukan keterlibatan, imajinasi,
pengertian, identifikasi dan interaksi. Dengan faktor-faktor tersebut maka
kualitas empati lebih meningkat”
Dengan
kesediaan kita mempelajari suatu karya seni secara empati, yaitu mencoba
memahami apa yang sebenarnya terbabar dalam karya seni itu, baik terhadap karya
seni yang berasal dari jaman lampau maupun dari masa kini dari daerah yang sama
atau berjauhan,berarti kita telah terbuka untuk memahaminya.
Memang,
pada dasarnya manusia bersifat sukar memahami manusia lainnya, termasuk
bersifat sukar menerima karya seni bentuk-bentuk asing. Pemahaman terhadap
karya seni bentuk-bentuk asing seperti karya seni rupa prmitif atau karya seni
rupa kuno, bahkan juga terhadap karya seni rupa modern tidaklah mudah, Satu
syarat yang masih dituntut oleh seni modern yang bahkan merupakan ciri khasnya,
ialah kreativitas. Dari sebuah perkataan ini tercantumlah beberapa sifat yang
merupakan gejala-gejalanya. Oleh karena itu untuk menghindarkan istilah modern
yang bermuka banyak itu tadi, ada yang menamai seni modern itu dengan “seni
kreatif”.
Di
Indonesia kita mengenal seniman pelukis dan pemahat modern antara lain:
- Affandi,
- Popo Iskandar,
- Zaini,
- G. Sidharta,
- Klul,
- Cokot,
- Ida Bagus Nyana dan sedcretan scniman muda lainnya
Karya-karya mereka (sebagian) dipajang di becrapa lempat
scperti :Balai Scni Rupa Pusat di Jakarta, Museum Affcndi di Yogyakarta, Museum
bali di Dcnpasar, Museum Ralna Warta di Ubud (Bali), Pusat Kcsenian Bali di
Dcnpasar, Museum Sctcja Neka di Ubud (Bali) dan di bebcrapa tempat kolcktor
lainnya.
Konsepsi
Budaya Dasar Dalam Berbagai Bidang Kesusasteraan
Hakekat
Puisi
Dipandang
dari segi bangunan bentuknya pada umumnya puisi dianggap sebagai pemakaian atau
penggunaan bahasa yang intensif; oleh karena itu minimnya jumlah kosa kata yang
digunakan dan padatnya struktur yang dimanipulasikan,namun justru karena itu
berpengaruh kita dalam menggerakkan emosi pembaca karena gaya penuturan dan
daya lukisnya. Bahasa puisi dikatakan lebih padat lebih indah, lebih cemerlang
dan hidup (compressed, picturesque, vivid) daripada bahasa prosa atau
percakapan sehari-hari.
Bahasa
puisi mengandung penggunaan lambang-lambang metaforis dan bentuk-bentuk
intutive yang lain untuk mengekspresikan gagasan, perasaaan dan emosi oleh
karena puisi senantiasa menggapai secara eksklusif ke arah imajinasi dan ranah
(domain) bentuk-bentuk emotif dan artistiknya sendiri.
Kepadatan
bahasa puisi itu sebenarnya sangat berkaitan. Secara sinkron dan integratif dengan
upaya sang penyair dalam memadatkan sejumlah pikiran, pcrasaan dan emosi serta
pe-ngalaman hidup yang diungkapannya. Hal yang membedakan seorang penyair dari
pengarang prosa adalah karena kemampuannya dalam mengekspresikan hal-hal yang
sangat besar dan luas dalam bentuk yang ringkas dan padat.
Dipandang
dari segi isinya puisi yang bagus merupakan ekspresi yang paling benar (genuine
expression) atas kcseluruhan kepri-badian manusia dan kerena itu ia dapat
menyampaikan secara luar biasa keinsyafan pikiran dan hari manusia tehadap
pcngalaman dan peristiwa kehidupan.
MANUSIA
DAN CINTA KASIH
Cinta
kasih, kasih sayang, kemesraan, pemujaan, dan belas kasihan merupakan bagian
hidup diri manusia. Bentuk-bentuk kehidupan yang dipenuhi rasa cinta kasih dan
kasih sayang dapat membangkitkan kreativitas manusia. Untuk mengungkapkan rasa
kasih sayang dan cinta kasih dapat melalui beberapa media. Melalui media
bahasa, lahirlah seni sastra; dengan media garis, warna, dan bentiik, lahirlah
seni rupa; dengan media nada, irama, dan suara, lahirlah seni musik, dan
lain-lain.
Pengkajian
makna seni budaya sebagai manifestasi cinta kasih, kasih sayang, dan belas
kasihan terutama yang berkaitan dengan norma, moral dan nilai dimaksudkan untuk
mengembangkan kepnibadian dan wawasan pemikiran. Hal mi. berarti akan
memperluas daya tanggap, persepsi, dan penalaran mengenai fakta seni budaya
yang dihadapi keseharian.
Menurut
Purwodarminto, cinta kasih adalah perasaan sayang, perasaan cinta, dan perasaan
suka pada seseorang. Secara sederhana cinta dapat dikatakan sebagai paduan rasa
simpati antara dua makhluk. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang di antara
pria dan wanita, akan tetapi dapat pula di antara pria dengan pria atau wanita
dengan wanita.Dalam kehidupan keluarga, kasih sayang atau cinta kasih merupakan
kunci kebahagiaan. Dalam kasih sayang, sadar atau tidak sadar dan masing-masing
pihak dituntut rasa tanggung jawab, pcngorbanan, kejujuran, saling percaya,
saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang
utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang itu hilang, sebagai misal tanggung
jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak
disertai kejujuran juga dapat mengancam kebahagiaan rumah tangga yang telah
terbina.
Cinta
kasih memang sangat terkait dengan kehidupan manusia. Hampir semua manusia
mengatakan bahwa cinta adalah sesuatu yang penting dalam hidup. Namun dalam
kehidupan sehari-hari kebanyakan orang tidak pernah berpikir tentang apa dan
bagaimana cinta itu. Padahal menurut Erich Fromm, cinta dapat diibaratkan
sebagai suatu seni sebagaimana bentuk seni lainnya, sangat memerlukan
pengetahuan dan latihan untuk dapat menggapainya.
Agar
dapat memahami cinta kasih secara mendalam, berikut akan diuraikan tentang
cinta dalam kehidupan sehari-hari yang selalu menjadi masalah hangat untuk
diperbincangkan. Dalam membina gerakan cinta, yang pertama perlu cepat disadari
bahwa yang disebut cinta sama sekali bukan nafsu. Sulit dihindari bahwa atas
dasar cinta murni yang dirasakan seseorang terhadap orang lain yang berlawanan
jenisnya, akhirnya akan bermuara pada perkawinan, yang akan berlanjut pula pada
hubungan seksual. Oleh karena itu, rasanya sulit diterima bahwa seseorang
menyatakan cinta sejati. Perbedaan cinta dengan nafsu dapat dijelaskan sebagai
berikut :
a.cinta bersifat manusiawi. Pada manusia cinta dapat tumbuh
dan berkembang, sedangkan pada binatang hanya terbatas pada nalurinya untuk
melindungi.
b.cinta bensifat rohaniah, sedangkan nafsu sifatnya
jasmaniah. Luapan cinta seseora memberikan semangat dalam hidupnya dan bagi
yang menerimanya dirasakan sebagai kebahagiaan. Sementara nafsu yang jasmamah
cenderung untuk memuaskan dorongan seksual.
c.cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu
cenderung menuntut. Pemberian cinta dilakukan secara halus karena rohaniab
sifatnya, sedangkan dorongan nafsu mudah dilakukan sebagai paksaan.
Menurut
Erich Fromm (1983), cinta itu terutama memberi bukan menerima dan memberi
merupakan ungkapan paling tinggi dan kemampuan. Hal yang paling penting dalani
memberi adalah yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyatakan
unsur unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan
pengenalan. Dalam pengasuhan, contoh yang paling sederhana adalah cinta kasih
seorang ibu dalarn mengasuh anaknya dengan sepenuh hati. Tanggung jawab adalah
suatu tindakan yang benar benar berdasarkan atas suka rela, seperti hubungan
antara ayah dengan keluarganya. Tanggung jawab biasanya wujud penyelenggaraan
atas kebutuhan fisik. Perhatian merupakan suatu perbuatan yang bertujuan untuk
mengembangkait prihadi orang lain, terutama agar mau membuka dirinya,
memperhatikan sebagaimana seharusnya.
Dalam
cinta yang sejati selalu ada kesungguhan untuk mem bangun hubungan cinta yang
ideal dalam mewujudkan kehidupan yang terbaik. Cinta itu bersifat timbal balik.
Cinta itu sebenarnya praktis, cinta memperbolelikan satu sama lain memperoleh
kemajuan dan kesalahan-kesalahannya. Sebagai ekspresi cinta antara seorang pria
dan wanita, tindakan seksual memperbarui dan menguatkan, membangkitkan kembali
kesadaran insting mereka berdua, misalnya untuk bercinta, untuk bertahan hidup
dalam penderitaan dan kemalangan, dan untuk menikmati kehidupan mereka bersama.
Menurut
Sarlito W Sarwono (dalam Supartono,1996) bahwa cinta ideal memiliki tiga unsur,
yaitu keterikatan, keintiman, dan ikatan adalah adanya perasaan untuk bersama
dia, secara totalitas untuk dia, tidak mau bersama orang lain kecuali dengan
dia. Keintiman, yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dari lingkungan yang
menunjukkan bahwa antara anda dan dia sudah stidah nyaris tak ada jarak lagi.
Panggilan-panggilan formal seperti Ibu, Saudara telah digantikan dengan memanggil
sebutan, seperti sayang. Makan dan minum dalam satu piring atau cangkir tanpa
rasa risi, saling memakai uang tanpa rasa berutang, tidak saling menyimpan
rahasia, dan sebagainya. Kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau
dibelai, rasa rindu jika lama tak ketemu, ungkapan-ungkapan yang mengungkapkan
rasa sayang, saling mencium, merangkul, dan sebagainya.
Berbagai Bentuk Cinta
Dalam
buku “Seni Mencintai”, Erich Fromm (1983) mengartikan cinta sebagai sikap,
suatu orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia
keseluruhan, bukan menuju satu “objek” cinta. Ta mengemukakan tentang
macam-macam cinta, yaitu cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotis, cinta
diri sendiri, dan cinta pada Allah SWT. Bersumber dari cinta-cinta tersebut,
manusia memberikan kasih sayangnya kepada yang lain, terutama kepada sesama
manusia dalam mewujudkan hubungan pnibadinya.
1.
Cinta Persaudaraan
Cinta
persaudaraan (agape dalam bahasa Yunani) diwujudkan manusia dalam tingkah laku
atau perbuatannya. Cinta per saudaraan tidak mengenal adanya batas-batas
manusia yang berdasarkan suku bangsa, bangsa, ataupun agama. Dalam cinta mi
semua manusia sama, yaitu sebagai makhluk ciptaan Allah.
Cinta
persaudaraan pada umumnya melekat dengan sikap tanpa pamrih. Secara filosofis
dibuatkan dengan jargon “cintailah sesamamu sepertiengkau mencintaidirimu
sendiri”.
2.
Cinta Keibuan
Kasih
sayang yang bersumber pada cinta keibuan yang paling ash adalah yang terdapat
pada seorang ibu terhadap anak kandungnya. Seorang ibu yang memperoleh benih
anak dan suaminya tercinta akan memeliharanya secara hati-hati dan penuh kasih
sayang. Setelah anak lahir melalui penderitaan yang hebat dan ibu, dirawat dan
diasuhlah anak dengan penuh kasih sayang. Dalam proses pengasuhan itu terdapat
serangkaian tugas yang harus dilakukan ibu, yaitu menyusui, merawat, menemani,
memandikan, membelai, dan sebagainya. Bagi seorang ibu tidak ada harta yang
paling berharga kecuali kehadiran anak, yang dianggap sebagai buah hati.
3.
Cinta Erotis
Kasih
sayang yang bersumber dan cinta erotis (sifat membirahikan), memang merupakan
suatu yang sifatnya eksklusif sehingga sering memperdayakan cinta yang
sebenarnya. Hal mi terjadi karena antara cinta dan nafsu dipersepsikan secara
sama. Padahal jika dicermati secara seksama, keduanya memihiki pengertian yang
berbeda bahkan bertolak belakang. Kasih sayang dalam cinta erotis merupakan
kontak seksual yang ash dan yang ideal bersumber dan cinta. Kasih sayang erotis
dapat menjadi perekat hubungan suami istri dalam membina hidup berkeluarga.
4.
Cinta Diri Sendiri
Pada
din individu, di samping harus mencintai sesama juga ada keharusan mencintai
din sendiri (self love). Banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada din
sendiri identik dengan & Jika hal mi yang terjadi maka cinta pada din
sendiri int nilai negatif. Namun esensi mencintai din sendiri Incrigurus din
sendiri sehingga kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi secara wajar. Setiap
individu wajib niencintai dininya sendiri.
5.
Cinta pada Allah
Cinta
pada Allah merupakan perwujudan pengabdian manusia ketika hidup di dunia. Orang
yang cinta pada Allah umumnya disebut religius atau taat beragama.
Hakikat Cinta
Eksistensi
manusia adalah koeksistensi. Tidak ada manusja yang bisa hidup sendirian tanpa
adanya orang lain, dan kekuatan yang menyatukan manusia dengan manusia lain
ialah cinta. Relasi antara manusia tidak akan berarti tanpa didasarkan atas
cinta.
Cinta
membuat “aku” dan “kamu” menjadi “kita”. Dan “kita” adalah communion
(kebersamaaan). Untuk mencapai kebersamaan yang ideal diperlukan keterbukaan
dan kesediaan tiap manusia untuk membangun relasi antar pribadi yang bersifat
kreatif,maka jelaslah bahwa cinta merupakan kebutuhan dasar bagi perkembangan
hidup manusia.
Jika
kebutuhan ini tidak dipenuhi, maka orang akan mengalami gangguan serius.
Manusia membutuhkan cinta seperti halnya makanan, karena itu cinta harus
diupayakan terus agar tidak punah. Caranya orang harus saling memberikan cinta.
Keadilan
dan Cinta > “Betas kasih di atas keadilan”,
pernyataan tersebut dikatakan apabila yang memberi betas kasih itu juga yang
memiliki hak, Misalnya seseorang tertangkap sedang melakukan kejahatan,
kemudian ia meminta maaf kepada orang banyak supaya diberi belas kasih, tidak
dibawa ke kantor polisi. Hukuman kepada pencuri itu adalah hak warga
masyarakat.
Cinta
Sejati > Ada pandangan yang menyebutkan bahwa
cinta sejati dapat diwujudkan oleh manusia. Alasannya ada 2, yaitu:
1.Cinta sejati bukan objek statis, tetapi situasi yang terus
berkembang ke kehidupan yang lebih bahagia. Ini tidak mungkin diupayakan dengan
sekali langkah, melainkan melalui proses jatuh bangun berkali-kali.
2.Karena manusia memiliki dimensi rohani yang bersifat tak
terbatas. Dengan terbuka terhadap daya rohani itulah dapat diwujudkan suasana
damai dan bahagia. Contoh cinta sejati adalah cinta ibu kepada anaknya.
Bagaimana
menurut pendapat kalian tentang budaya Indonesia saat ini?
Menurut pendapat
saya budaya Indonesia saat ini sudah berkembang dengan baik karena di Indonesia
sering diadakan festival budaya,pentas budaya yang biasanya digunakan untuk
menarik perhatian turis dari luar negeri
Refrensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar